Lorong-Lorong Kota

Posted on September 22, 2011

0


Lorong-Lorong Kota,

Lorong-Lorong Kota yang panjang, berliuk-likuk membelok ke jalan-jalan yang sepi. Lampu-lampu sorot jalanan. Laju kendaraan; sepeda motor dan mobil. Angkasa yang jernih; terlihat pesawat-pesawat terbang beterbangan. Take-Off dan Landing. Semua rutin berjalan begitu.

Lorong-Lorong Kota,

Tidurku yang panjang; membawaku pada mimpi-mipi yang berulang. Ingatkan aku pada Tuhan, Bimbing aku dalam dzikir Ilahiyyah. Ingatkan aku dalam alam malakut. Beri aku kesempatan untuk bertaubat. Lorong-lorong kota yang telah berubah. Sebelas tahun silam ketika alu lulus dari Sasjana Sastra, Filsafat, dan Linguitik, aku sempat bertanya; “Apa yang mesti dikerjakan ?”. Setumpuk ampop kosong untuk melamar kerja beserakan dimeja komputer. Yach, untung aku sempat mengerti internet dan beberapa bahasa program.

Lorong-Lorong Kota,

Puasa telah usai, dan mercon-mercon dinyalakan di jalan-jalan. Dooor, dooor, dooooooor, Blleeg, klaaaap. ter, ter Dook, bluug; sweeet deeeeer. Laju sepeda motor yang kencang, mobil, dan andong. Lorong kota; terlihat Malioboro; yang tetap indah selamanya.

Lorong-Lorong Kota,

Ada maling yang selalu bertanya; bagaimana merampok bak. Bagaimana menjadi kaya. Bagaiman menjipalk karya orang lain, atau barangkali bajingan jalanan yang tungang palak. Lorong kota telah menjadi saksi atas semuanya. Semuanya yang Ada. Pencopet jalanan berkumpul karena ditangkap petuas. Hacker dan pencuri data internet; hanya bekerja tanpa hasil, lorong kota telah menjadi saksi, atas amuman manusia-manusia kelaparan, koripsi, pengcuri uang rakyat. Tak ada perkerjaan mulia yang diakukannya, semuanya nista.

Lorong-Lorong Kota,

Lampu-lampu yang unik, indah, sorotan lampu disk-laser yang tajam, memberikan suasana kota yang bersih, dan damai. Kedipan lampu-lampu penghias kota yang indah. Apapun terpamang rai tanpa tujuan yang pasti, kecuali kehendakmu saja. Hidup dan kehidupan yang berfalsafah. Hanya lorong kota yang mengajakku melihat fakta-fakta sosial yang apa adanya. Seua ada. Bergabung dalam indahnya kebersamaan dalam lorong-lorng kota. Bawakan aku hadiah; jika kau mau, sebagai bekal untuk bertanya, Kau mau apa?

Posted in: Puisi