Jiwa yang Menjerit

Posted on September 24, 2011

0


Jiwa yang Menjerit,

Jiwaku menjerit, ketika tiada apapun yang kupunya.
Jiwaku menjerit, ketika diputuus sang kekasih,
Jiwaku menjerit, ketika diputus pekerjaan,
Jiwaku menjerit, ketika tak seorangpun mencintaiku,
Jiwaku menjerit, ketika tiada uang, internet, televisi, komputer, pekerjaan, teman, dan Tuhan?

Jiwa yang Menjerit,

Aku gundah melihat perkembangan dunia ini,
Aku sakit hati, ketika semuanya tidak kompatible dengan pekerjaanku,
Aku tergoda untuk menelusur setiap data dan informasi,
Kucoba tuliskan bait-bait pusi di internet,
Kubawa gundah hatiku untuk berfikir jernih dengan berlama-lama munuliskan puisi, novel, atau ceritera.

Jiwa yang Menjerit,

Aku ditawari hidup dilingkungan pesantren. Mengaji, berdakwah, mengurus masjid, dan mencari penyembuhan jasmani dan ruhani. Jiwaku terkekang dalam lingungan yang kadang tidak sesuai dengan isi hatiku. Dahulu aku berkeinginan kuat untuk kuliah pada jurusan ISIPOL Komunikasi; tetapi senyatanya diterima di fakultas Sastra; Aku belajar Linguistik dan Sastra. Sejujurnya aku pandai berkomunikasi kepada siapapun; termasuk lingkungan internet.

Jiwa yang Menjerit,

Aku pernah bekerja di P4N-UGM [Yogyakarta], MUC -Global [Jakarta], LP2S [Sleman], PSSDA [Jakarta]. Jiwaku menjerit, ketika gajinya sangat terbatas, aku hanya mengandalkan lembar ijasah, internet, dan beberapa program bahasa komputer. Hatiku sedih ketika harus berpisah dengan semuanya.

Jiwa yang Menjeri,

Apa yang kutangisi adalah ketiada berdayanya diri ini dalam terpaan dunia yang serba keras. Hari-hari yang panjang hanya kulalui melalui internet. Aku terdaftar dalam beberapa akun bebas. Syukur kalau ada orangyang mengasih pekerjaan; menulis, memotret, dan mengelola situs-situs internet. Saat ini aku sedang giat menulis pusisi, novel dan karangan cerita.

Posted in: Puisi