Kutatap Wajahmu

Posted on September 27, 2011

0


Kutatap Wajahmu,

Kutatap wajahmu dalam-dalam,
Ada berkas-berkas cinta yang pernah tumbuh,
Ada guratan asmara yang pernah membara,
Ada senyum merekah, renyah, yang pernah singgah,
Wajahmu yang ayu, bagaikan rembulan yang menguning, sempurna,
Rambutmu cepak, wajahmu bulat,
Mungkin ada cinta di hatiku,
Pilu, sedih, gembira atau sukaaaaa,
Kau bilang sayang, dan membukan pintu untuku.
Ada gores-gores cinta bekas terluka,
Ada puisi-puisi cinta yang pernah kau kirim.

Kutatap Wajahmu,

Kau merasa ragu, ketika pertama aku bertemu denganmu. Hatimu kubaca dalam mimik bibirmu mengucapkan cinta selamat datang. Tanganmu yang lembut, mengulurkan jabat tangan perkenalan. Kau bilang dalam logat yang indah, merayuku untuk mencintaimu. Komuter, internet, telepon dan surat menjadi awal perkenalan yang sengaja kita ciptakan.

Kutatap Wajahmu,

Sungguh. Ada sesal yang mendalam ketika akhirnya kita mesti berpisah. Menuai kewajiban kerja dan berpndah-pindah kota. Yogyakarta, Solo, Jakarta. Sungguh, izinkan aku mengenang kembali apa arti cinta itu. Yang kudapati adalah kesunyian, kemenangan, kekalahan, kelalutan, dan kerinduan yang sangat. Wajahmu yang lembut, membula. Menjadi sumber inspirasi untuk bertanya. Kau mencintaiku?

Kutatap Wajahmu,

Andai kau masih ada, dalam jangkauan tanganku, apa yang mesti kukatakan. Kutatp sekali lagi, ketika kita terpisahkan oleh jarak ruang dan waktu. Hatimu ragu; menerimaku. Ada tanya yang terus menyeruat dalam otak pikiranku. Tuluskah kau mencintaiku?

Kutatap Wajahmu,

Kerinduan ini tinggal kerinduan, kan kucari penggantimu, untuk memenuhi tuntutan kehidupan ini. Ada harap dan cinta yang sedang mengusik hatimu yang gundah dari kegelisahan yang terus-menerus mencari cinta. Cinta untuk sungguh-sungguh membina keluarga, “menikah maksudnya”. Kutatap wajahmu, dan memberi sekali kesempatan kedua untukku.

Posted in: Puisi