Novel

Posted on September 28, 2011

0


Keadilan Tuhan,

Shuinta masih termangu, ketika email yang dikirimkan padanya menuyinggung perasaannya. Ada sesuatu yang telah hilang dari dirinya. Keceriaannya selama ini hilang, ia murung sepanang hari. Apa yang terjadi dari peristiwa di hari kemarin membuatnya sadar akan usianya yang tidak lagi muda. Ia uring-uringan entah kenapa. Seharian ia marah-marah melulu. Yang dikerjakan hanya menulis, dan merenung saja. Ada hal yang membuatnya gundah. Pacarnya tidak lagi menelponnya. Ada perubahan yang terjadi pada dirinya. Ada kekecewaan atas perilaku kawan-kawannya. Lingkungan yang serba berubah, dan kesibukan yang luar biasa di kantornya.

Keadilan Tuhan,

Ada hal ajaib yang membuatnya gundah. Ia sering memngguman seorang diri. Dan berbicara dengan alam semesta. Pergantian musim, dan alamlingkungannya. Segalanya berubah entah kenapa. Yang ia jalani adalah sekelompok umat manusia yang sedang bekerja. Ya..! Bekerja kantoran. Suaminya, Bambang hanya tersenyum atas perubahan istriya itu. Bambang menyalakanmesin mobil kijang kijang miliknya. Dan bersiap siap-siap hendak pergi ke kantor. Pagi itu pagi yang cerah. Matahari baru saja muncul dari arah timur. Terlihat kekuningan, dan memudah menjadi putih. Bambang hanyalah satu dari sekian juta manusia yang berkelana dalam kehidupan ini. Ada banyak kawan yang menasehati untuk mengubah gaya hidupnya. Kota metropolitan, Jakarta, tentu bereda dengan Yogyakarta, tempat ia kuliah dahulu. Hari itu adalah hari yang kesekian kalinya, ketika istrinya uring-uringanmelulu. Bambang berlangganan internet, berlangganan koran, dan televisi kabel. Banyak hal yang sebenarnya telah membahagiakan kehidupannya.

Keadilan Tuhan,

Ada keinginan untuk berubah dalam kehidupan Shinta dan Bambang. Ada harapan untuk memperoleh rumah baru. Shinta dan Bambang selalu berusaha untuk bersikap baik kepada relasi-relasinya, kepada teman-temannya. Dan tentu saja pada kolega kantornya. Bambang yang berpendidikan sarjana Teknik Sipil, telah mengantarkan kerjanya untuk bekerja di kontraktor jalan. Hidupnya bahagia dan memperoleh penghasianyang lebih dari cukup. Sementara Shinta adalah sarana komunikasi masa. Dahulu mereka berkenalan di Universitas Gajah Mada, tempatnya kuliah.  Banyak cerita yang telah dibuatnya. Sewaktu pacaran mereka sering berjalan-jalan bersama, bermalam mingguan, dan sering berdiskusi bersama. Bergembira dengan petualangan cinta yang telah diraihnya. Seringnya bepergian kemana pun mereka suka. Yang penting mereka bahagia. Lima tahun sudah mereka menikah, mereka dikarunia dua anak. Mereka hidup bahagia.

Keadilan Tuhan,

Ada banyak harapan yang sering mereka memintanya pada Tuhan. Keadila, kemenangan, kebahagiaan, kemuliaan dan kehidupan yang tentram. Kemenangan demi kemenangan telah mereka raih. Lalu apa lagi yang mestinya diperolehnya. Kenangan yangindah, kehidupan yang Islami, dan minat untuk segera pergi haji. Tetatngganya baik-baik saja, dan menerima apa adanya. Yang mereka jalani adalah kehidupan yang dinamis, di kota Jakarta.

Keadian Tuhan,

Ada banyak cerita, tetapi yang penting adalah ceita kehidupan yang sedang mereka jalani, kehidupan yang serba gemerlap. Kehidupan dalam ruang kantor yang dinamis. Shinta bekerja sebagai jurnalis televisi, dan sering memberitakan berbagai hal mengenai seputar “keluarga, analisis masyarakat dan komunikasi”. Yang sedang terjadi adalah adanya perubahan lingkungan yang demikian berbeda dengan lingkungan daerah. Tempatnya bekerja membuat agenda-agenda rutin untuk pemberitaan. Ada berbagai isu yang mereka tawarkan, “Komunikasi dan media, Internet, Buku Keluarga, dan Analisi Televisi”. Tuhan yang Maha Berkehendak, telah mengantarkan banyak solusi dalam rumah tangganya. Pemilihan waktu yang tepat anatara membina hobi, melakoni pekerjjaan seagai reporter, dan membina rumahtangga.

Keadilian Tuhan,

Shinta sering mewawancarai orang, perihal keluarga bahagia, dan menulis banyak hal seputar travel guide. Yang sering terjadi dalam hidupnya adalah ia terlah berubah. Kecantikannya telah berkurang, hari-harinya sibuk dengan berbagai acara yang sering dilaluinya. Banyak hal yang membuatnya cemas. Pekerjaanya menunut perfecsionism, dan bergerak cepat. Kehidupan metropolitan dan kehidupan di kampus yang tentu saja berbeda dengan apa yang sedang dikerjakannya. Tubuhnya yang tinggi besar, membuatnya gerah. Shinta sering berolah raga, jalan-jalan, dan kadang-kadang keuar kota. Ke Sumatra ke Kalimantan, ke Sulawesi, dan terakhir ke Irian Jaya. Yang dikerjakan adalah mencari nara sumber untuk di wawancarainya. Telepon genggamnya menyala tiada henti. Pekerjaanya sebagai reporter telah membawa pergaulan yang luar biasa, sering ketemu dengan berbagai manusia. Ia sering memohon kedailan Tuhan agar di karunia kehidupan yang bahagia dan damai. Sholatnya rajin, dan mengajari dua anaknya untuk rajin sekolah. Ramadhan, nama anaknya, dan yang satu Barokah. Shinta sering memohon keadilan Tuhan alam hidupnya. Yang ia pikirkan adalah adanya gerak dinamis dalam hidupnya.

Keadian Tuhan,

Tidak diketahui pasti bahwa komputer internet yang ia pakai, sering di ganggu orang. Ada gertakan-gertaan “sambel”, yang sering masuk dalam login internetnya. Ada banyak hal yang sering diluar dugaanya, meerima banyak tantangan. Yang sering teradi adalah banyaknya surat-surat yang masuk yang harus dikerjakannya. Entah apa lagi yang terjadi selain kemenangan untuk memperoleh semua informasi yang ia cari. Google, memberinya kemudahan untuk mencari file-file yang sering ia cari. Temen-temannya selalu memberikan dukungan yang penuh atas perolehan kesempatan. Ir. Ramlan, direktur pemberitaan itu telah memberinya kepercayaan untuk meliput berbagai hal di luar kota. Banyak kesematan yang telah ia peroleh selama ini.

Keadilan Tuhan,

Yang sedang terjadi adalah adanya perubahan kehidupan. Sewaktu kuliah, ia  rajin membaca buku dan browsing internet. Sedangkan ketika sudah bekerja ia sibuk dengan urusan televisi dan media. Shinta sangat pandai meuliskan syair-syair puisi. Dan menulis pula artikel, dan komentator. Sebagai jurnalis ia bekerja dalam banyak kesempatan untuk di raihnya. Semoga Tuhan memberinya “Kedalilan”. Jalan yang sedang dirintisnya. Banyak hal yan ingin diceritakan. Tetapi yan terpenting adalah sikapnya yang serba perfect, untuk menempuh pekerjaanya. Semoga Tuhan memberinya jalan kehidupan yang baik.

Posted in: Novel