Hari Minggu yang Sepi

Posted on September 30, 2011

0


Hari Minggu yang Sepi,

Hari yang semakin sepi. Tidak ada yang kunantikan selain datangnya malam. Tidak seperti ketika kuliah dahulu. Malam minggu bisa main internet, membaca-baca; “novel, puisi dan cerita”. Hatiku sedih perih, nestapa. Hatiku gundah. Ada sesuatu yang hilang padku. Aku masih sendirian, terangu menunggu apa yang sedang kutunggu. Tidak ada teman untuk bicara. Hanya cahaya bulan dan bintang yang terkadang aku termenung sejenak. Pikiranku kalut. Hatiku gundah, dan pikiranku melayang-layang entah kemana. Tidak ada yang kunanti. Aku seorang jejaka yang belum menikah. Ada kerinduan yang tak tersampaikan, ada kisah-kisah yang pernah kutorehkan dalam pena buku harianku telah pudar dimakan waktu. Sungguh, barangkali aku kesepian. Dalam kesendirian ini aku sering melamun, melamunkan akan perpisahan kita yang mesti terjadi. Aku berfikir sederhana, mungkin belum jodoh kita. Kau pergi tanpa meninggalkan pesan, dan kau kembali ke Padang, Sumatra Barat. Hatiku semakin teriris ketika, aku mendengar lagu-lagu memori di radio. Kisah-kisah cinta yang dibacakan oleh penyiar radio.

Hari Minggu yang Sepi,

Hari ini benar-benar sepi, hatiku gundah, memikirkan bagaimana kalau mencari pengganti dirimu. Aku pernah dua kali patah hati. Umurku yang tidak lagi muda [39 tahun], telah menjadikanku semakin nelangsa. Ada saja yang membuatku hidup bagaikan seorang diri. Aku hanya berbicara seperlunya. ingin rasanya kutulis puisi yang banyak, atau menulis ceritayan bisa aku kerjakan. Pengetahuan yang sebisa mungkin aku kerjakan. Pengetahuan yang sedang aku kerjakan untuk memperoleh kasih sayang-Nya. Ada kerinduan yang mendalam. Hatiku gundah, pikiranku resah. Tubuhku terlihat kurus, dan mata yang agak kabur. Pandangan mataku tidak seperti ketika muda dahulu. Aku memutuskan untuk mencari pengganti dirimu. Aku berfikir untuk menulis saja, ya, menulis saja.. Sebagai aktivitas yang masih mungkin aku kerjakan.

Hari Minggu yang Sepi,

Kemandirian, ketabahan, kesungguhan keberanian, dan ketusan hati, membawaku pada relung waktu yang telah hilang. Sebelas tahun sudah waktu yang entah hilang kemana, pikiranku resah, hatiku gerah gulana. Dikamarku hanya ditemani kasur, guling dan bantal. Hari yang tidak bersemangat. Aku benar-benar kesepian, kutuliskan puisi-puisi di kertas, dan kemudian aku ketikan pelan-pelan di komputer internet. Tida hari kecuai berkarya, ingin rasanya untuk menuis buku. Menulis apa pun yang bisa aku kerjakan. Mengerjakan apa saja yang sanggup aku raih. Pikiranku telah pulih, jiewaku telah sembuh, dan kemauanku untuk menulis buku telah bulat. Tinggal mencari dana untuk membiayainya.

Hari Minggu yang Sepi,

Tidak ada kegitan di masjid dan mushola. Kutulis sebiuah sajak di blog pribadiku. Dan kusampaikan; bahwa aku perlu teman. Teman hidup untuk memberikan semangat kehidupan. Dulu aku pernah bercinta, tetapi belum apa-apa telah berpisah. Entah mengapa, hanya pertanyaamu yang tidak pernah kujawab. Kenyataanya engkau tidak jauh dari diriku, barangkalai engkau merasakan hal sama. Kesepian.

Hari Minggu yang Sepi,

Buku-buku yang pernah kutulis, kubaca ulang, ada renungan hati, “Andai Kau Jadi Miliku”, hanya berhayal, dan merenung saja. hatiku sepi rindu, dendam, kesepeian, uring-uringan, dan bersedih hati. Tanpamu, hatiku menjadi risau, termangu seorang diri. Kesepian dan terkadang menangis dalam dizkir malamku. Tetapi aku berfikir realitiss, untuk apa gunanya bersedih. Yang penting akan menyosong kehidupan ke depan. Ada banyak harapan yang kupanatkan pada Tuhan. Semoga hidupku berguna dan mendatangkan barokah kehidupan. Walaupun sepi aku berharap adanya pengganti yang akan menemani hidup untuk mengarungi bahtera masayarakat manusia. Bersosialisasi dengan manusia. Hatiku ragu akan datangnya kemenangan?.

Posted in: Puisi