Lorong Sunyi

Posted on Oktober 15, 2011

0


Lorong Sunyi,

Waktu yang panang telah menghapiriku dalam mimpi-mimpi yang panjang. Ada bayang-bayang yang selalu mengikutiku. Ada kesempatan yang tidak pantas untuk dilewatkan begitu saja. Aku terus menulis, menulis dan menulis. Aku mengambil semua kemungkinan yang bisa aku tempuh, dan bergerak dengan cepat pada perubahan-perubahan yang berhasil aku tempuhi. Ada sejuta kemungkinan yang aku gambarkan, ada sederet kesempatan yang datang menanti. Aku hadir untuk memberimu pegangan yang kuat untuk dijalani. Meyakinkan diri terhadap datangnya keberuntungan kehidupan. Dalam lorong waktu yang panjang ini aku menantimu.

Lorong Sunyi,

Terdengar suara-suara alam yang menimbulkan kerinduan tersendiri. Ada suara-suara motor dan mobil yang berlalu lalang menjalankan tugasnya masing-masing. Ada deru kehidupan yang sedang dipacu. Ada kemenangan yang datang untuk diapresiasikan. Ada sejumput harapan yang pantas untuk dipikirkannya. Dalam lorong yang sunyi, hatiku semakin sepi tanpamu kembali.

Lorong Sunyi,

Keramaian internet, tak menggubrismu untuk menyapa, apa yang sedang terjadi. jarak dan ruang yang berbeda telah memberikanku pengertian bahwa ini hanya mimpi. Mimpi dari dunia internet, yang terkoneksi, dan kemudian bergaul dengan bebas. Ada bentang-bentang pengetahuan yang mampu menggerakkan cara kita berfikir. Semuanya telah lewat dan dimakan oleh waktu yang cerdas. Diriku telah hilang dalam panjangnya lorong waktu saat kumenanti dirimu hadir bersamaku.

Lorong Sunyi,

Hati yang sunyi, pikiran yang nestapa, kecerdasan yang menggumpal, dan kehendak yang enggan untuk diajak kompromi. Semua yang hadir, tampak dingin-dingin saja. Dan menyisakan bekas yang kurang nyaman. Di lorong waktu yang panjang ini, aku pernah menantimu. Untuk hadir bersamaku. Seakan aku berharap padamu. Berharap akan datangnya cinta dan kasih sayang. Namun semuanya hanya mimpi di tengah siang bolong. Yang tak ada apa pun untuk dinantikannya. Semuanya telah hilang dan musnah.

Lorong Sunyi,

Hati yang kesepian, datang silih berganti. Ada harapan yang datangnya terlambat. Ada sejumlah keinginan yang tidak sampai untuk memenuhinya. Ada harapan yang datang enggan menyapanya. Ada kemungkinan-kemungkinan yang banyak jumlahnya. Semuanya hilang bersama hadirnya waktu-waktu yang cepat berlalu. Di lorong sunyi ini aku pernah menantimu. Untuk hadir mengajak mimpi.

Lorong Sunyi,

Sapaan, kemesraan, kesunyian, langgam dan tembang lama yang sudah tidak berbunyi kemali. Semua yang dahuluindah, terasa hambar, dan menyisakan kesempatan yang amat sedikit. Dan hilang ditengah-tengah keramaian manusia. Semuanya hilang, dan yang tertinggal hanya kenangan yang sempat kita tuliskan dalam lembar-lembar internet ini. Pantaskah aku untuk bertanya ulang, apa yang telah kita kerjakan?

Posted in: Gagasan