Gadis Berjilbab

Posted on Oktober 27, 2011

0


Gadis Berjilbab,

Gadis berjilbab itu berjalan sendirian. Mobil yang di kemudikan di parkir di depan kampus UNS. Seharian aku bekerja di masjid. Menyiapkan Jum’atan. Setiap hari ketika masih kuliah di UNS Surakarta, aku bekerja di masjid. Bekerja secara sukarela. Ada saja pekerjaan mengurus ibu-ibu pengajian atau mengurus TPA [Taman Pendidikan Al-Qur’an].  Setiap Jumatan kami suguhkan tema-tema khutbah Jum’atan yang saling berbeda. Pagi itu datanglah seorang akhwat untuk menyerahlkan selembar surat. Barangkali ada pengetahuan baru yang sedang kita pelajari. Gadis berjilbab itu menghampiriku, dan menyerahkan selembar surat. Terlihat di eplupuk matanya yang terlihat manis, dan ayu. Hanya sapaan rindu, untuk mengetahui siapa gadis berjilbab itu.

Gadis Berjilbab,

Langkahnya tegap. Bau badannya wangi. Tatapan matanya tajam. Dan suaranya merdu. Ia gadis Islam yang datang ke masjelisku. Aku mengira akan datangnya rezeki bagi kami. Gadis itu membawa mobil, dan mengemudikan seorang diri. Tubuhnya kuat, lembut, dan senyumannya menawan hati siapa pun. Kami terkesima dengan hadirnya gadis berjilbab itu!

Gadis Berjilbab,

Jilbab yang dikenakan sangat lebar. Warna coklat, dan ruknya juga berwarna coklat. Bajunya juga coklat. Terasa damai ketika memandangi gadis itu. Tubuhnya yang cenderung tinggi menambah keyakinan, bahwa gadis cantik itu sedang mengatarkan sebuah pesan. Pesan yang ditulis dalam surat. Entah apa isinya.

Gadis Berjilbab,

Ada kenangan tersendiri bekerja di masjid. Aku bertindak sebagai ketua masjid, yang bertanggung jawab atas berbagai hal. Yang menarik adalah hubungan kami yang relatif baik. Aku menyangka gadis itu sedang mencari temannya, barangkali aku. Aku tergiur untuk mengenal gadis itu. Aku mencari-cari nomor telepon untuk dihubungi. Atau barangkali untuk menindaklanjuti pekerjaan di masjid Nurul Amal itu.

Gadis Berjilbab,

Jilbab, pakaian Islami yang sedang ngetren di kampus. Hatiku selalu berdebar bila berhadapan dengan gadis berjilbab. Sayang kita tidak mampu berjumpa. Hany selembar surat, barangkali surat cinta? Entahlah!

Posted in: Komunikasi