Gadis Pujaan Hati

Posted on Oktober 27, 2011

0


Gadis Pujaan Hati,

Gadis itu telah menjadi inspirasi bagiku untuk meneropong masa depan. Kulihat dari balik bibirnya yang tipis, yang suka menirukan kata-kata yang kuucapkan. Sari. Sari telah membuatku terpesona oleh ucapan-ucapannya. Yang kudapatkan adalah perkenalan yang memperoleh segalanya tentang cinta. Benarkah ia telah meracuni pikiranku dengan bait-bait cinta yang sering dibacanya. Ia gadis lugu yang kutemui. Dan pernah bercinta denganku.

Gadis Pujaan Hati,

Waktu senggang yang kumiliki aku pergunakan untuk mengurus mushola Al-Ikhsan. Mushola tempatkuy beraktivitas, dan memberiku cinta. Cinta pada gadis kecil, “Sari”. Ia pernah membawa angan-anganku untuk bercinta dengannya. Namun kandas. Ia kurang menyukaiku. Pernah beberapakali menelponnya. Namun jawabannya kurang mengenakkan. Ia mencampakkan cintaku. Ia pergi entah kemana. Yang jelas ada rasa kurang suka pada diriku.

Gadis Pujaan Hati,

Walu kupuja.. Namun ia kurang menyukaiku. Barangkali karena sebab-sebab yang tidak pernah aku ketahui. Namun pasti ia pernah jatuh cinta kepadaku. Beberapa kalimat yang sering diucapkannya membuat cintaku telah menyatu. Namun hanya cinta monyet yang kurang berarti. Rasanya hanya waktu yang tersia-sia jika harus menurutinya. Cinta tak akan pernah menyerah.

Gadius Pujaan Hati,

Ia gadis bersajadah merah, yang pernah kita tulis pengalamannya di halaman-halaman depan. Kisah cintanya yang hilang dalam tergusurnya waktu. Teman-temannya sering membuatnya ribut-ribut. Dan pasrah bersama waktu yang pernah hilang. Waktu itu aku sedang belajar ber-Islam. Dan mengemukakan beberapa gagasan-gagasan Islam.

Gadis Pujaan Hati,

Walupun begitu, tulisan ini hanya mengejawantahkan bahwa cinta itu tak akan pernah kembali. Ia pergi bersama dengan hilangnya waktu yang kita pakai untuk bercinta. Cinta telah membawa segalanya. Dan kau rela berkorban demi cinta.

Posted in: Komunikasi