Kumenanti Kau Kembali

Posted on Oktober 29, 2011

0


Kumenanti Kau Kembali,

Barangkali mustahil. Tetapi inilah rasanya. Sungguh aku merindukanmu. Ada kerinduan yang begitu mendalam. Barangkali sering kutulis namamu dalam ingatan tidurku. Aku selalu bermimpi tentang hubungan kita ini. Yang kurasakan adalah rasa cinta. Rindu. Kangen. Sayang, kau tak pernah hadir kembali dalam pergaulan kita. Hanya rasa hampa. Tak ada keinginan yang lain. Sepi. Semua hilang ditengah-tengah luapan informasi yang serba dahsyat. Kau hilang dalam rayuan internet. Dan dimangsa orang lain. Seakan ucapan itu dusta, “Kumenanti Kau Kembali”, Kau hanya terdiam dalam seribu bahasa.

Kumenanti Kau Kembali,

Sungguh, aku berfikir, apa yang menarik dari dirimu, sehingga aku begitu antusias mencarimu. Google tak mau memberiku informasi untuk menjawab pertanyaanku itu. Kau kemana? Hanya pasrah. Pernah kukatakan bahwa aku sedang mencari pengganti dirimu. Aku ingin menikah. Dan segera membentuk rumah tangga. Rasanya dengan profesi ebagi seorang penulis akan merasa cukup. Aku tuliskan banyak hal, kemudian aku terbitkan di Mizan, Gramedia, Bentang Budaya, Pustaka Pelajar, atau penerbitan online.

Kumenanti Kau Kembali,

Apa sesungguhnya yang menganggu jalan ini, sehingga aku selalu mengingatmu. Wajahmu yang ranum, memberiku inspirasi secara terus menerus. Kau begitu keibuan. Dan diusia yang muda sudah lulus sebagai arsitek. Kau begitu pantas dengan segala atribut yang kau miliki. Inilah yang sesungguhnya terjadi. Aku lupa ahwa umurku tidak lagi muda, dan menuntut kerja ekstra hati-hati, sehingga tidak sakit-sakitan. Aku hanya mampu menulis, menulis, dan menulis.

Kumenanti Kau Kembali,

Ada bayang-bayang cinta yang selalu mengikutiku. Aku menyalahkan diriku, kenapa kau tidak aku kejar sampai ke Padang, Sumatra Barat. Itu rumahmu. Kau kembali menatap alam pulau Sumatra. Ada kisah dariku yang sempat kita bagikan bersama. Ada kesempatan untuk bertutur sapa. Setidaknya menggunkan jejaring sosial atau facebook saja, rasanya sudah cukup.

Kumenanti Kau Kembali,

Hanya mimpi. Jika mengharapkanmu kembali. Aku harus segera berbenah. Dan mencari gadis lain yang lebih muda. Barangkali yang siap untuk dinikahi. Aku berfiir bahwa karir yang mampu aku capai adalah menulis. Aku berjanji untuk mampu menghadirkan tulisan-tulisan yang bermutu. Setidaknya kolom sastra ini mampu memberikan pencerahan bagi batinku.

Posted in: Komunikasi